Sebenarnya aku tidak terlalu minat membahas masalah
ini,mengingat sudah cukup banyak dibahas. Tapi melihat keadaan bahwa
masih banyak yang belum tahu,atau masih mempertanyakan keabsahan dan
kejelasan hukumnya,maka tidak ada salahnya kujelaskan dengan lebih
detail dari fenomena2 yang kulihat selama ini. Sambil berbagi ilmu,lah.
^_^
Orang2 yang 'pacaran' pun biasanya punya tanda pada beberapa hal. Misal,no.telp.si xxx-nya dikasih tanda hati,nama yang bernuansa kemesraan dsj,banyak mengoleksi foto xxx-nya,inbox sms penuh sms dari 'nya',de el el. Lalu di facebook,biasanya relationship status a.k.a. status hubungannya: in a relationship(emang iya),engaged(patut dipertanyakan),atau malah married(kacau dah) dan diikuti nama pasangannya. Foto profilnya bisa saja ber2 dgn pasangannya sambil menunjukkan sesuatu yang mereka sebut 'kemesraan',trus statusnya sering berbau romantis atau 4L@Y akan 'cinta',dan sering dikomen dan disukai oleh pasangannya. Pokoknya mengesankan kedekatan deh! Seolah2 mereka itu adalah orang2 paling bahagia di dunia(???). Dan mungkin masih ada tanda2 lain yang belum kesebut,tambahkan saja.
Lalu bagaimana Islam memandang 'pacaran'?
Sengaja diberi tanda kutip karena istilah ini nggak beres sejak awal. Fenomena yang terjadi dan pengalaman pribadi menunjukkan bahwa ketika orang ditanya mengenai makna 'pacaran',hampir semuanya GAK BISA JAWAB. Bahkan ada yang pernah ditanya mengenai arti 'pacaran',gelagapan dan bikin status kira2 begini:"menurut kalian pacaran itu apa?" Nah lho.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,penglihatan,dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya."(QS 17:36)
Dalam ayat tsb dijelaskan agar tak mengikuti apapun yang gak jelas dan atau kita tidak atau belum tahu mengenainya. Bagaikan orang lain nanya kita lagi ngapain(mis.lagi makan),tapi kita bilang "aku nggak tahu lagi ngapain." Kira2 si penanya menganggap apa sama yang ditanya?
Lalu kalau dilihat dalam status ikatannya,orang yang mikir pasti bertanya2,ini tuh ikatannya gimana sih? Deket,tapi terbatas,gak terlalu bebas(kecuali yang mabok nafsu). Tapi temen juga bukan. Wah,gak jelas banget nih. Mengada2. Ayat tadi berlaku lagi u/ bagian ini.
Apa lagi? Orang2 bilang bahwa ini merupakan metode pengenalan thdp calon pasangan hidup. Ada yang patut dikritisi dari sudut pandang ini.
1. Apakah metode ini pernah dijalankan di masa RasuululLaah S.A.W.?
2. Apakah ulama2 pernah mengenal istilah ini sebelumnya?
3. Mengenai calonnya,apakah dijamin bahwa itu bener2 calonnya?
4. Masih mengenai calonnya,apakah benar dgn metode ini kita bisa mengenal calonnya dgn baik dan benar?
Kita bahas.
1. RasuululLaah S.A.W. tak pernah mengenal cara seperti ini,yang beliau S.A.W. sunnahkan pada ummatnya adalah khitbah u/ mengenal calon pasangan hidupnya(penjelasan khitbah nanti di tulisan lain). Sementara segala yang dimaksudkan dalam amal(dalam kasus ini adalah ijtima' alias interaksi) wajib mengikuti yang dicontohkan beliau S.A.W. "segala perkara (agama) yang tidak berasal dari kami maka ia tertolak."(HR Muslim)
2. Tak ada satupun imam madzhab maupun ulama salafush shalih yang menyebutkan perkara ini. Selain itu ada penjelasan bahwa interaksi pria-wanita itu dasarnya terpisah,gak bebas bercampurbaur.
3. Fakta yang terjadi di lapangan adalah mereka yang 'pacaran' seringkali gak serius dan hanya u/ mencoba2 saja(weleh,perkara berat kok jadi mainan? :P). Sedikit sekali yang berpikiran serius,dan sekalipun serius,metodenya gak sesuai.
4. Fakta lagi bahwa sebenarnya yang 'pacaran' itu sebenarnya belajar jadi tukang tipu. Di depan pasangannya sih berkata2 manis,pura2 baik sambil minta traktir,perhatian,jaga image,sok punya duit de el el. Tapi di belakang,bahasa hutan rimba(lebih dari kebun binatang) keluar,kelakuan kacau,dompet gak ada isinya,pokoknya sudut seberang dari 0 derajat di Diagram Cartesius deh! Gak ada mirip2nya!
Itu baru masalah ikatannya. Lalu bagaimana dgn perbuatannya dalam ikatan itu,yang sudah dijelaskan tadi di awal? Oke,kita bahas.
Dalil paling umum yang sering diutarakan adalah "Janganlah kamu mendekati zina,"(QS 17:32). Dalil ini sering ditafsirkan seenaknya oleh yang 'pacaran' dgn dalih bahwa mereka gak sampai berzina. Lho? Salah ya? Nggak,hanya saja mereka menghilangkan bagian lain dari zina itu sendiri.
Zina ada yang secara harfiah zina(gak perlu kita tanya keharamannya),ada zina secara makna. Sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari menyatakan bahwa mata,lisan,dan hati juga ikut berzina. Zina mata adalah melihat yang tak pantas,zina lisan adalah berucap(kata2 mesra de el el),dan zina hati adalah berpikir yang macam2. Adakah korelasinya dgn tindakan dan kegiatan saat 'pacaran'? Tampaknya sudah cukup jelas. Belum lagi ditambah dalil2 lain tentang larangan berkhalwat,menyentuh yang bukan mahram,de el el.
Masih mau ngelak juga? Dgn alasan cuma jarak jauh,cuma lewat sms atau telpon,dan sebagainya? Baca pengertian hadits tadi. Lagian kalau cuma begitu mah buat apa bikin ikatan sembrono itu? Kurang kerjaan.
Tapi kita pacarannya Islami,kok! Di bawah bedug,mulai pake bismilLaah,diakhiri doa kifaratul majlis(bodor ding),dsj. Hah? Aduh,tolong deh. Jangan bikin orang lain ngakak gak jelas dong(menahan tawa dgn susah payah).. Sejak kapan ada yang seperti itu? Apakah madu bisa dicampur dgn racun? Atau air dicampur api? Tidak. Ingat bahwa dasar dari kegiatan ini sudah bertentangan dgn syariat,mau dipoles segimana juga gak bakal ada bagus2nya. Yang ada malah nambah dosa gara2 mencampurkan yang haq dan bathil. Waduh,niatnya mau 'mengurangi dosa' (yaelah,nanggung amat!) malah nambah dosa. Sia2 akhirnya. --a
Akadnya aja udah bathil. Emang ada ya abis 'nembak'(emangnya burung ditembak??) trus tiba2 interaksi yang dilarang tiba2 jadi halal? Kalau pernikahan sih iya halal,lha ini apaan coba?
Kalau sesuatu secara syara' sudah salah,akibatnya apa? Yah,kita bisa lihat sendiri. Ada yang ketika ketahuan belangnya,marah,ngambek,ribut,lempar petasan,sepatu,dompet(wah,hampir mustahil nih),sandal,batu,pisau,pedang,bom atom(udah ah,makin aneh!),trus diputusin. Akhirnya depresi,putus asa,putus harapan,sampe putus nafas(baca: bunuh diri) CUMA GARA2 INI!!! Belum lagi pengorbanan tenaga,waktu,perasaan,dan tentu saja uang. Memang gak capek nganterin si xyz kemana2? Nggak makan waktu buat nelpon2 gak jelas? Gak makan hati pas ketahuan si xyz selingkuh? Apa nggak keluar duit buat nraktir makan,nonton di bioskop,beli bensin buat motor,beli tiket tempat wisata,de el el? Trus hasilnya apa yang positif? Nothing! Great Zero! Percuma! Sia2! Yang ada dosa didapat gara2 kemaksiatan itu. Sangat disayangkan.
Trus kalau begitu,sebenarnya 'pacaran' itu sebenernya dari mana sih asalnya? Dari mana lagi kalau bukan dari peradaban barat yang terkenal bebas tanpa batas di atas kertas? Ustadz Muhammad Shiddiq Al Jawi malah mengatakan dari budaya Nasrani! Ingat sabda RasululLaah berikut: "Barangsiapa mengikuti suatu kaum maka ia termasuk ke dalamnya."(HR Abu Dawud). Hello? Kita ini muslim,apa mau dimasukkan dalam golongan kaum yang dijanjikan AlLaah akan siksa abadiNya? Orang waras pasti bilang NGGAK!
Eh,kalau bener budaya barat berarti fb juga dong? Komputer juga? Dan segala macam teknologi juga? Nah,ini yang sering disalahartikan. Berbeda antara yang namanya Hadharah(peradaban) dgn Madaniyah(sains dan teknologi). Madaniyah 'amm alias umum itu boleh diambil,tak terbatas dari manapun bahkan dari lisan seorang kafir. Sementara hadharah,kita diharamkan mengambilnya melainkan hanya dari Islam karena sudah berkaitan dgn aturan dan tata hidup. Fb,kompi,dsj itu Madaniyah,tak ada masalah mengambilnya selama tidak bertentangan dgn Islam. Sementara 'pacaran' itu termasuk hadharah,sehingga wajib ditolak karena bukan berasal dari Islam.
Jelas sekarang? Jadi selain secara syara' salah,ternyata berasal dari peradaban kufur pula. Wah,makin parah nih. Hukumnya sudah jelas haram. Tapi..gimana ya? Rasa suka susah dihilangkan nih.. Masa' kita harus mengekangnya? Yaelah..ribet juga sih??
Naluri akan rasa suka seperti itu(gharizah an-nau') memang fitrah,tapi apa itu alasan u/ melakukan tindakan yang diharamkan? Menyerah pada hawa nafsu? Bukan perkara bagus. Sama sekali tak bagus. Terus harus apa,dong?
Tahap preventif awal bisa dimulai dari:
1. Jaga pandangan(QS 24:30,31)
2. Jaga interaksi
3. Usahakan jangan liat foto lawan jenis
4. Shaum
5. Persibuk diri dgn kegiatan bermanfaat mis. ngaji,dakwah,nulis,belajar,de el el
6. Perbanyak mengingat AlLaah,paling penting nih.
Itu tahap awal,lalu tahap berikutnya? Mari kita mengaji Islam secara menyeluruh. Pelajari sampai ke akar2nya sampai diketahui bahwa ini merupakan persoalan sistemik. Bahwa hal ini terjadi karena tidak adanya aturan yang membatasi interaksi pria-wanita akibat diterapkannya hukum sekular yang melahirkan liberalisme yang beranggapan bahwa manusia harus hidup sebebas2nya tanpa aturan dan akibat mencampakkan hukum AlLaah yang mengatur interaksi sedemikian rupa sehingga perasaan dan kemuliaan manusia terlindungi. Ingin perasaan terlindungi? Kehormatan terjaga? Kehidupan berkah? Tegakkan kembali aturan AlLaah di bumi ini dgn menerapkan syariat Islam di seluruh penjuru bumi.
"Dan tidaklah Aku mengutusmu,melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam."(QS Al Anbiyaa:107)
WalLaahu a'lam bi ash-shawwab.(alfatih12)
https://www.facebook.com/notes/andhika-putra-dwijayanto/bagi-yang-masih-ingin-tahu-masalah-pacaran/10150268706169177

0 komentar:
Posting Komentar