Pendidikan bagi
bangsa adalah suatu proses dan juga sistem yang mempunyai tujuan ideal
yang diyakini, begitu juga dengan pendidikan bangsa kita, sebagaimana
yang tertuang dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 2
tahun 1989: Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti
luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan
rohani, kepribadian dan mandiri,serta bertanggung jawab pada
kemsyarakatan dan kebangsaan.
Tujuan pendidikan tersebut juga merupakan tujuan pendidikan Islam, dikarenakan Pendidikan Islam adalah suatu sub sistem dari pendidikan nasional. Dari tujuan diatas terlihat jelas bahwa pendidikan sangat mencita-citakan terbentuknya manusia Indonesia seutuhnya ataupun ‘insan kamil’, yang siap menghadapi segala kemajuan dari segala segi dalam kehidupan ini (baca: globalisasi), tanpa harus kehilangan makna dan tujuan hidup sesungguhnya, yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini. Globalisasi merupakan suatu rangkaian proses perubahan sosial, ekonomi, dan budaya, dalam pola kehidupan manusia.
Pesatnya arus perubahan dari segala segi kehidupan telah melahirkan dampak positif – negatif bagi manusia itu sendiri. Kita rasakan ada suatu dinamika kehidupan yang dinamis, mudah, bebas, namun secara negatif dirasakan juga semakin terpuruknya kita; kemorosotan moral, kekerasan, kesadisan, dan kejahatan lainnya yang sering tidak manusiawi, diperparah lagi munculnya ‘budaya’ Machehavilian yaitu menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. Sementara itu juga dikalangan generasi seringkali fenomena minuman keras, pemakaian obat-obat terlarang, pergaulan bebas, semakin mempertegas arah baru kecendrungan sebagian generasi muda.
Melihat fenomena yang ada seiring dengan modernisasi maka tidak ada pilihan lain kecuali menempatkan pendidikan sebagai wahana pengolahan sumber daya manusia, tidak terkecuali pendidikan Islam. Menurut Prof. Mohd. Athiya El-Abrasyi ada lima hal kenapa pendidikan Islam sangat sentral dalam menunjang perkembangan kehidupan.
- Untuk pembentukan akhlak/ moral yang mulia. Disini ditekankan bahwa setiap pelajaran adalah untuk pembentukan akhlak/ moral, setiap guru haruslah memelihara akhlak/moralnya, dan semua komponen yang barada dalam sistem pendidikan haruslah menempatkan akhlak/moral dalam setiap langkahnya.
- Persiapan kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW: Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.
- Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.
- Menumbuhkan roh ilmiah, keinginan mengetahui, dan mengkaji/ megamalkan ilmu yang bermanfaat.
- Berperan menciptakan generasi siap pakai (profesional).
Dari rangkaian
sejarah juga menyatakan bahwa ayat pertama yang turun pada Nabi Muhammad
SAW, selaku nabi akhir zaman adalah ‘IQRA’ artinya ‘bacalah’.
Keseluruhan Al Quran dan hadist Rasulullah yang merupakan amalan,
ucapan, persetujuannya merupakan sumber-sumber pendidikan Islam dari
segi arah, kandungan, dan kaedah.
Maka amalan Nabi SAW sendiri
menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menjayakan dan menyebarkan
ajaran Islam dengan lancar dan berkesan karena beliau sendiri adalah
guru dalam artian yang sesungguhnya, guru pada umat manusia dan
pengikut-pengikutnya.
Sesungguhnya pendidikan Islam
memiliki transmisi yang nyata dalam upaya berperan mengarahkan
masyarakat secara berimbang, baik segi intelektual imajinasi, keilmuan,
kultural, serta kepribadian. Terbentuknya kepribadian yang baik
merupakan cita–cita dan dambaan setiap negara, karena dengan demikian
akan terarahnya hidup untuk sebuah pengabdian, dalam mengerakkan diri
sendiri, masyarakat untuk berbuat yang bermakna.
Upaya pembentukan kepribadian dalam pendidikan Islam dapat dilalui dalam beberapa aspek.
Pertama, taraf pembiasaan.
Taraf ini lebih tepatnya pada masa anak-anak, sebab sejak dini adalah
masa yang peka bagi pembentukan kebiasaan. Menurut Zakiah Drajat:
Hendaklah setiap pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi anak
sangat perlu pembiasaan dan latihan yang cocok/sesuai perkembangan
jiwanya.
Kedua, taraf pembentukan
pengertian, minat, dan sikap. Dalam masa ini harus diberi pengertian
yang tegas mana yang baik – buruk, terpuji – tercela, jujur – biadab,
hak – bathil, dalam aktifitas keseharian.
Ketiga, pembentukan kerohanian
yang luhur. Pembentukan ini merupakan pembentukan diri sendiri yang
berlangsung pada masa dewasa. Taraf ini sesungguhnya sudah bisa
membedakan secara jelas dan nyata mana baik dan benar, karena sudah
mengetahui dampak dari keduanya.
Dari tinjauan diatas maka
pendidikan Islam haruslah mampu berkembang dan meainkan peran terdepan,
dan tetap membuka mata terhadap globalisasi dewasa ini, yang selalu
menawarkan berbagai pilihan dan perubahan, dan juga dengan segala ragam
perkembangan IPTEK.
Watak dari sains dan teknologi
tidak pernah statis, namun terus mengalami perubahan sebagai hasil dari
riset/penelitian dan pengembangan. Maka peranan dari ilmu pengetahuan
dan teknologi akan mengambil posisi yang secara langsung mempengaruhi
bukan saja gaya hidup sehari-hari tetapi juga nilai seni moral dan agama.
Pendidikan Islam baik itu yang
formal, non-formal, maupun informal haruslah terarah agar lahirnya
generasi unggul, yaitu generasi yang intelektual dengan pribadi
bermoral, sehingga dengan demikian pendidikan Islam mampu memberikan
kontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat madani. Dalam rangka
mewujudkan hal tersebut perlu beberapa upaya, antara lain:
Pertama, memantapkan pendidikan Islam baik di rumah,di sekolah, maupun di masyarakat.
Kedua, mengintegrasi antara
pendidikan dan pengajaran. Sesungguhnya pada setiap pengajaran terdapat
nilai edukatif, misalkan pengajaran matematika mendidik manusia agar
berpikir sistematis dan logis, objektif, jujur, ulet, dan tekun. Begitu
juga fisikamendidik manusia agar syukur nikmat yang terdapat pada
penciptaan-Nya.
Ketiga, adanya tanggung jawab
bersama.Pendidikan akhlak bukan hanya tanggung jawab guru agama saja
tapi tanggung jawab semua pendidik, orang tua, dan semua elemen
masyarakat,tanpa terkecuali pengambil kebijakan di pemerintahan.
Keempat, pendidikan harus
menggunakan semua kesempatan, berbagai sarana termasuk teknologi modern,
dan dengan teknologi itu pula dapat dijadikan sarana pembentukan
akhlak.
Pendidikan Islam harus bergerak
cepat, karena globalisasi dengan kemajuan ipteknya tidak mempedulikan
kesiapan kita untuk menyambutnya, kita hanya punya satu pilihan segera
berbenah dan merapatkan barisan dengan segala pendukung pendidikan. Yang
jelas dari beberapa upaya yang dibicarakan, yang terpenting adalah
manajemen pendidikan Islam itu sendiri. Manajemen pendidikan Islam dalam
penyusunan langkah-langkah juga harus memberi ruang seluas-luasnya pada
mereka yang amanah, ikhlas, dan mampu beradaptasi dengan tantangan
dunia pendidikan di era globalisasi. Dan tidak memberi ruang bagi
generasi yang korup, karena korupsi ini pulalah yang merupakan penyakit
masyarakat yang mengakibatkan lemahnya beberapa lembaga pendidikan yang
ada, walaupun tidak kesemuanya.
0 komentar:
Posting Komentar