Penyebaran agama Islam oleh Rasulullah sangat sulit dan menghadapi banyak rintangan dari kaum kafir. Tak hanya kesulitan untuk melangkah, tetapi juga sakit fisik dialaminya. Demikian pula dengan para sahabat yang menyertainya bersyiar.
Ada satu kisah saat Nabi SAW menghadapi ujian yang berat. Kisah ini dikutip dari Nurdan Damla dan Osman Turhan dalam Mencintai Rasulullah, 365 Hari Bersama Nabi Muhammad SAW. Dalam kisah ini, Nabi SAW dilempari oleh kaum kafir di Thaif.
Kaum kafir di Makkah menyiksa Nabi SAW dengan keji. Beliau selalu mendapatkan cacian dan hinaan, bahkan dilempari batu. Saat beliau membaca Alquran, mereka meninggikan suaranya, bahkan bertepuk tangan. Semua itu membuat Rasul bersedih.
Rasulullah lalu memutuskan pergi ke Thaif untuk mengajak penduduk negeri itu memeluk Islam. Thaif adalah tempat yang indah dan hijau. Sekeliling daerah itu dipenuhi dengan perkebunan buah anggur dan tempat penyulingannya.
Keputusan untuk pergi ke kota itu karena beliau mengira penduduk Thaif akan menerima, percaya akan kenabiannya, dan memeluk Islam. Kalau Rasul bisa mendapatkan dukungan dan bantuan orang Thaif, orang-orang kafir di Makkah tidak akan berani menyakiti beliau. Rasulullah juga berharap, agama Islam akan tersebar dan semakin kuat.
Akhirnya, berangkatlah Rasulullah bersama anak angkatnya, Zaid. Sesampainya di sana. Rasulullah menemui para pemimpin kota itu. Lalu, dijelaskan kepada mereka tentang kebesaran Allah dan kenabiannya yang ditetapkan oleh-Nya.
Selain itu, Nabi SAW juga menyampaikan bahwa menyembah berhala itu perbuatan yang salah dan hanya Allah-lah yang patut untuk disembah. Rasul meminta mereka masuk Islam.
Mereka bereaksi sangat keras terhadap permintaan Nabi SAW. Mereka bahkan jauh lebih parah daripada kaum kafir di Makkah. Cacian dan makian diungkapkan, sehingga beliau berpikir untuk segera meninggalkan tempat itu. Mereka berbaris di sisi jalan yang dilalui Nabi SAW dan melemparinya dengan batu.
Batu-batu itu menghujani beliau. Kakinya pun berdarah dan membuatnya kesulitan untuk berjalan. Penduduk Thaif menertawakan Nabi SAW saat meninggalkan tempat itu dengan dilindungi Zaid. Anak angkat Nabi SAW pun penuh darah, tetapi berusaha melindunginya sekuat mungkin.
Rasul dan Zaid berusaha lari dan berlindung serta berdoa di bawah pohon anggur. "Ya, Allah, aku bisa menahan kesulitan apa pun selama aku tidak mendapatkan murka-Mu, hingga Kau me-ridhaiku, aku memohon ampunan kepada-Mu."
*Mari mengamalkan SunnahNya. Perjuangan yang begitu besar. Semoga kita senantiasa beriman padaNya, bukan menistakan agamaNya. Keterlaluan, jika tetesan darah Rasulullah dibayar dengan kedurhakaan terhadapNya.*

Salam. Mohon info dimana buku 365 hari Bersama Nabi Muhammad bisa dibeli?
BalasHapusSalam. Mohon info dimana buku 365 hari Bersama Nabi Muhammad bisa dibeli?
BalasHapus