Selasa, 24 Juli 2012

Filled Under:

Pacaran Boleh, Tapi……???

Share

Setiap kali kita mendengar kata ’pacaran’, akan terlintas di benak kita sepasang anak manusia yang tengah dimabuk cinta dan dilanda asmara, saling mengungkapkan rasa sayang serta rindu, Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya, dahsyat! Yang diingat cuma si Dia, pengen selalu berdua, mau makan ingat si Dia, waktu tidur mimpi si Dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu, rela ngorbanin apa saja demi cinta, rela melakukan apa saja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Waduh...! Gawat!
JATUH CINTA
       Manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. Sebagaimana firmanNya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran : 14).
       Jadi, jatuh cinta kepada lawan jenis, nggak dosa kok! Namanya juga fitrah, datang dengan sendirinya tanpa diantar dan tanpa dijemput. Hhe. Nah, kalau rasa cinta tadi disalurkan melalui yang namanya ‘pacaran’, itu baru dosa. Lho? Kok gitu? Jawabannya ada di halaman berikutnya.

PACARAN DALAM ISLAM
       Istilah pacaran yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini tidak ada dalam Islam. Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mengesahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), dating (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan). Namun Islam jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya.
       Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk dan pergi berdua, berboncengan, berpandangan, berpegangan tangan dan… dan lain-lain. Ini jelas pelanggaran syari’at! Terhadap larangan bergaul yang  bukan muhrim. Islam juga menjaga sistem pergaulan.
       Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Seringkali sewaktu lagi pacaran, banyak aktivitas lain yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Tidak hanya itu, Islam sudah jelas menyatakan : "Dan janganlah kamu mendekati zinah, sesungguhnya zinah itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q.S.Al Isra' : 32).
       So, kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and nggak ada legitimasi Islam buatnya, Adapun beribu atau berjuta alasan, tetap saja pacaran itu haram. Tahu kan haram itu apa? Jika dilakukan mendapat dosa, jika ditinggalkan mendapat pahala. Nah, pilih mana? Dosa atau pahala? Pahala dong. Secara sosial kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah,  bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah!

PACARAN UNTUK MENDAPATKAN JODOH IDEAL. BENARKAH???
       Percaya sama Al-Qur’an nggak? Tercantum dalam Al Qur'an : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
  Nah, bagaimana caranya agar seorang wanita mendapatkan laki-laki yang baik? Atau bagaimana caranya agar seorang laki-laki mendapatkan wanita yang baik? Jawabannya, mulailah dari diri sendiri. Berusahalah menjadi individu yang baik agar Allah memberimu yang baik pula. Pacaran bukanlah solusi untuk mendapatkan jodoh yang ideal. Justru pacaran akan membawa seseorang ke lubang perzinahan yang dimurkai Allah SWT. Sekali lagi, pacaran hukumnya haram! Apapun alasannya, hukum pacaran dalam Islam tidak akan pernah berubah. Sekali haram, tetap haram!
MENUJU PERNIKAHAN TANPA PACARAN
       Yang perlu diingat bahwa jodoh merupakan Qadla (ketentuan) Allah, dimana manusia tidak punya andil untuk menentukan sama sekali, Manusia hanya dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Coba bayangkan, pacaran selama bertahun-tahun, tapi akhirnya putus? Sakit!!!
       Nggak ada gunanya, yang ada malah dapat dosa. Untuk apa menjalin hubungan yang haram sekaligus belum pasti? Untuk apa menghabiskan masa remaja dengan hal yang tidak berguna? Untuk apa berpacaran kalau akhirnya putus juga? Untuk apa mengaku Islam kalau ternyata yang haram dilakukan? Kan nggak lucu!                             
       Pernikahan adalah jalan indah menjalani cinta. Sebelum engkau mampu menjalaninya, tak ada jalan lain kecuali dengan menjaga hati dan pergaulan. Seringkali, di antara kita ada yang bertanya : “Kalau nggak pacaran, gimana bisa nikah?” Jawabannya : “Ya bisalah!” Nah, ini hebatnya Islam! Islam tidak hanya mengatur kita dalam hal ibadah, Islam mengatur kita mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Islam punya cara jitu untuk membimbing kita menuju pernikahan dengan cara-cara yang diridhai Allah SWT, pastinya bukan dengan pacaran. Islam mengenal yang namanya Ta’aruf.
       Ta’aruf adalah proses perkenalan antara seorang wanita dan laki-laki untuk menuju pernikahan. Itupun dilakukan tidak berduaan. Ta’aruf dihadiri oleh pihak keluarga. Apabila dalam proses perkenalan ini, pihak wanita dan laki-laki merasa cocok, maka akan dilanjutkan ke walimah. (pernikahan).
         Apabila telah ada ikatan yang sah (pernikahan), maka tidak ada lagi batasan-batasan antara wanita dan laki-laki tersebut. Berduaan, bersentuhan, berpandangan, berpegangan tangan dan semacamnya hukumnya halal justru bernilai pahala di sisi-Nya.
       Nah, sudah tahu kan sambungan dari judul buletin? PACARAN BOLEH, TAPI... SETELAH MENIKAH. Ayolah Akhi dan Ukhti, jadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidupmu. Meskipun sulit dan banyak rintangannya, yakinlah, Allah SWT punya rencana yang indah untuk kita. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

0 komentar:

Posting Komentar