Selasa, 18 September 2012

Filled Under:

Kasih Sayang Ala Rasulullah

Share
Kasih Sayang Ala RasulullahAnas ra mengatakan, “Belum pernah saya melihat orang yang lebih mengasihi keluarganya bila dibandingkan dengan Rasulullah SAW” (HR.Muslim).
Orang-orang yang keras hati tidak akan mengenal kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri mereka. Hati mereka keras bagaikan karang. Kaku tabiat, baik ketika memberi maupun menerima. Kurang peka perasaan, lagi tipis perikemanusiannya. Berbeda halnya dengan orang yang dikaruniai Allah Subhannahu wa Ta’ala hati yang lembut, penuh kasih sayang lagi penuh kemurahan. Dialah yang layak disebut pemilik hati yang agung penuh cinta. Hati yang diliputi dengan kasih sayang dan digerakkan oleh perasaan yang halus.
1. Mencintai karena Allah
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sempurna keimanan seorang diantara kamu sebelum aku menjadi orang yang paling dicintainya daripada anak, orang tua, dan semua manusia”.(HR.
Muslim).
Rasulullah SAW mencontohkan kita untuk mengungkapkan rasa kasih sayang secara terus terang. Suatu ketika Abdullah bin Sarjas ra. berkata kepada Rasulullah: “Aku mencintai Abu Dzar”. “Apa sudah kau kabarkan kepadanya ?”, tanya Rasulullah. “Belum”. Lalu Rasulullah memerintahkan agar ia memberitahukan kecintaannya itu kepada Abu Dzar. “Wahai Abu Dzar, aku mencintaimu karena Allah,” ucap Abdullah. “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau cintai aku karenanya,” balas Abu Dzar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan memberi pahala bagi siapa yang mengatakan perkataan itu.”

Suatu ketika Rasulullah SAW didatangi oleh seorang penduduk desa yang tidak suka mencium anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda,”Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Allah telah mencabut sifat belas kasih dari hatimu” (HR.Bukhari).
Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya Allah Maha Halus dan menyukai kehalusan. Dia memberikan sesuatu dengan dengan kelembutan dan Allah tidak memberikan sesuatu dengan kekerasan” (HR.Muslim).
Ketika air mata Rasulullah menetes menangisi gugurnya para syuhada’ tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallaahu anhu bertanya: “Wahai Rasulullah, Anda menangis?” Rasulullah menjawab: “Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR. Al-Bukhari).
Ketika air mata Rasulullah menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah SWT. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari).
2. Menggendong dan Mencium anak
Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Rasulullah pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemudian mengecup dan menciumnya.” (HR. Al-Bukhari).
Ciuman sebagai ungkapan kasih sayang merupakan sunah Rasulullah Saw. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah ra.”Telah datang beberapa orang dari dusun kepada Rasulullah SAW., mereka berkata: „Apakah kalian menciumi anak-anak kecil kalian?” Rasul menjawab: „Ya.” Mereka berkata lagi: “Namun kami, demi Allah tidak pernah mencium.” Rasul menjawab: “Apa daya diriku, jika Allah mencabut rasa kasih sayang dari hati kalian.”
Dari Abu Hurairah RA bahwa suatu hari Al Aqra bin Habis melihat Rasulullah SAW sedang menciumi Al Hasan. Kemudian Al Aqra memberitahukan kepada Rasulullah SAW bahwa ia memiliki sepuluh orang anak tetapi belum pernah menciumi salah seorang diantara mereka. Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi”. (HR. Turmudzi).
Hadits-hadits di atas dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa ciuman memiliki peranan penting dalam membangkitkan perasaan dan emosi anak, bahkan selain itu mampu meredakan perasaan amarahnya, dan menambah eratnya hubungan dan cinta dengan orang tuanya. Bagi anak, hal ini adalah suatu bukti rasa kasih sayang kedua orang tuanya. Seorang ibu atau bapak yang mencium anaknya membuktikan adanya perhatian terhadap anaknya. Janganlah segan-segan mengantarkan anak kita dengan ciuman manis di kening sebelum tidurnya. Hal ini akan menentramkannya ketika akan tidur.
3. Memberikan Makanan
Kasih sayang tersebut tidak hanya terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi segenap anak-anak kaum muslimin. Asma’ binti ‘Umeis Radhiallaahu anha–istri Ja’far bin Abi Thalibmenuturkan: “Rasulullah datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far?” beliau menjawab: “Sudah, dia telah gugur pada hari ini!” Mendengar berita itu kamipun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka.” (HR. Ibnu Sa’ad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Akhlak Rasulullah yang begitu agung memotivasi kita untuk meneladaninya dan menapaki jejak langkah beliau. Pada zaman sekarang ini, curahan kasih sayang terhadap anak-anak serta menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya sangat langka kita temukan. Padahal mereka adalah calon pemimpin keluarga esok hari, mereka adalah cikal bakal tokoh masa depan dan cahaya fajar yang dinanti-nanti. Kejahilan dan keangkuhan, dangkalnya pemikiran serta sempitnya pandangan menyebabkan hilangnya kunci pembuka hati terhadap para bocah dan anak-anak. Sementara Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, kunci pembuka hati itu ada di tangan dan lisan beliau. Cobalah lihat, Rasulullah senantiasa membuat anak-anak senang kepada beliau, mereka menghormati dan memuliakan beliau. Hal itu tidaklah mengherankan, karena beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa ketika orang-orang melihat buah pertama (dari musim tanaman) mereka membawanya kepada Nabi. Ketika beliau menerimanya, beliau berdo’a, “Ya Allah, berkatilah kami atas buah-buahan kami dan berkatilah kami dalam kota kami, dan berkatilah kami dalam setiap timbangan sha’ atau mud kami (maksudnya dalam setiap keadaan). Ya Allah, Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu, dan nabi-Mu, dan aku juga adalah hamba-Mu dan nabi-Mu. Ia (Ibrahim) berdoa kepada-Mu untuk keberkahan atas Makkah, dan aku memohon pada-Mu untuk Madinah seperti ia memohon pada-Mu untuk Makkah, dan aku juga memohon kepadamu seperti itu.” Beliau kemudian memanggil anak kecil dan memberikannya buah-buah itu. (Shahih Muslim,7:3170)
4. Mengucapkan salam
Setiap kali Anas bin Malik melewati sekumpulan anak-anak, ia pasti mengucapkan salam kepada mereka. Beliau berkata: “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.” (Muttafaq ‘alaih).
Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Rasulullah tidaklah marah, memukul, membentak dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.
5. Mendo’akan
Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha ia berkata: “Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, lalu beliau mendoakan mereka, pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memercikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR. Al-Bukhari).
6. Bermain & bercanda
Dari Jabir ra. berkata:”Pernah kami bersama Rasulullah saw. kemudian kami diundang makan bersama. Tiba-tiba kami melihat Husain bermain di jalan bersama anak-anak kecil lain. Bersegeralah Nabi berada di depan sahabat-sahabatnya, kemudian beliau membentangkan tangannya, maka ia lari ke sana-kemari sehingga Rasulullah membuatnya tertawa, kemudian membawanya. Kemudian Rasul meletakkan salah satu tangannya di dagunya dan yang laindiletakkan di antara kepala dan kedua telinganya, dan Rasulullah pun merangkul dan menciumnya seraya bersabda: “Hasan dariku dan aku darinya, Allah akan mencintai orang yang dicintai oleh Hasan dan Husain, dua cucu dari cucunya. (HR. Bukhari dan Tirmidzi serta Hakim).
Meluangkan waktu bermain dan bercanda dengan anak adalah satu hal yang amat penting. Dengan demikian jalinan keakraban antara anak dan orang tua akan terjalin erat. Suatu hal yang amat disayangkan apabila kita membiarkan anak kita bermain dengan teman-teman sebayanya tapi ternyata kita tidak dapat meluangkan waktu untuk bermain bersamanya. Maka jadilah si anak akrab dengan teman-teman lingkungannya. Padahal belum tentu lingkungannya itu islami.
Bagaimana kita dapat menanamkan nilai-nilai islami apabila kita tidak dapat akrab dengan anak-anak kita sendiri. Tugas bermain dan bercanda dengan anak bukan saja terletak pada pundak ibu, bahkan seorang ayah pun patut meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak-anak. Umar bin Khattab pernah berkata: “Seharusnya seorang ayah di tengah-tengah keluarganya berlaku kekanak-kanakkan, namun kalau dilihat dirinya sesungguhnya, maka ia adalah laki-laki yang ksatria. Demikianlah Akhlaq mulia Rasulullah saw. terhadap anak-anak yang patut kita contoh. Anak-anak adalah harapan kita, pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak amat tergantung pada rasa kasih sayang yang dicurahkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Dalam hal ini yang paling berperan penting adalah kita sebagai orangtuanya, tempat kembali bagi anak untuk merasakan dekapan hangatnya rasa kasih sayang.
Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: “Rasulullah pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Radhiallaahu anhu. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Shahihah no.70).
7. Memanggil dengan panggilan yang disukai
Anas bin Malik Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Radhiallaahu anha, beliau memanggilnya dengan: “Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kali.” (Zuwainab artinya: Zainab kecil)
8. Mengajak beribadah
Kasih sayang beliau kepada anak tiada batas, meskipun beliau tengah mengerjakan ibadah yang sangat agung, yaitu shalat. Beliau pernah mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasulullah dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih).
Mahmud bin Ar-Rabi’ Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Aku masih ingat saat Rasulullah menyemburkan air dari sebuah ember pada wajahku, air itu diambil dari sumur yang ada di rumah kami. Ketika itu aku baru berusia lima tahun.” (HR. Muslim).
Rasulullah senantiasa memberikan pengajaran, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Abdullah bin Abbas menuturkan: “Suatu hari aku berada di belakang Nabi beliau bersabda: “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: “Jagalah (perintah) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, pasti kamu selalu mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya saya pernah melakukan shalat, dan saya bermaksud memperlama dan memperpanjang shalat saya tersebut. Lalu saya mendengar suara tangisan bayi, maka saya pun memperpendek shalat saya, sebab saya tahu, ibunya malah gembira dengan tangisan anak tersebut.” (HR.Bukhari Muslim)
”Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat diwaktu usia mereka meningkat tujuh tahun dan pukullah (kalau enggan (tidak mau) melakukan shalat) diwaktu mereka meningkat usia sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud).
Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau besar dari kalangan kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim).
9. Memenuhi janji
Rasulullah SAW bersabda, “Cintailah anak-anak dan kasihanilah mereka. Jika kalian berjanji kepada mereka maka penuhilah janji kalian, sebab mereka tidak berfikir (melihat) kecuali bahwa kalian akan memberi rezeki kepada mereka” (HR.Thahawi).

0 komentar:

Posting Komentar