Anas
ra mengatakan, “Belum pernah saya melihat orang yang lebih mengasihi
keluarganya bila dibandingkan dengan Rasulullah SAW” (HR.Muslim).
Orang-orang yang keras hati tidak akan
mengenal kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri
mereka. Hati mereka keras bagaikan karang. Kaku tabiat, baik ketika
memberi maupun menerima. Kurang peka perasaan, lagi tipis
perikemanusiannya. Berbeda halnya dengan orang yang dikaruniai Allah
Subhannahu wa Ta’ala hati yang lembut, penuh kasih sayang lagi penuh
kemurahan. Dialah yang layak disebut pemilik hati yang agung penuh
cinta. Hati yang diliputi dengan kasih sayang dan digerakkan oleh
perasaan yang halus.
1. Mencintai karena Allah
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah
sempurna keimanan seorang diantara kamu sebelum aku menjadi orang yang
paling dicintainya daripada anak, orang tua, dan semua manusia”.(HR.
Muslim).
Muslim).
Rasulullah SAW mencontohkan kita untuk
mengungkapkan rasa kasih sayang secara terus terang. Suatu ketika
Abdullah bin Sarjas ra. berkata kepada Rasulullah: “Aku mencintai Abu
Dzar”. “Apa sudah kau kabarkan kepadanya ?”, tanya Rasulullah. “Belum”.
Lalu Rasulullah memerintahkan agar ia memberitahukan kecintaannya itu
kepada Abu Dzar. “Wahai Abu Dzar, aku mencintaimu karena Allah,” ucap
Abdullah. “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau cintai aku karenanya,”
balas Abu Dzar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan memberi
pahala bagi siapa yang mengatakan perkataan itu.”
Suatu ketika Rasulullah SAW didatangi
oleh seorang penduduk desa yang tidak suka mencium anak-anaknya.
Rasulullah SAW bersabda,”Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Allah
telah mencabut sifat belas kasih dari hatimu” (HR.Bukhari).
Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya
Allah Maha Halus dan menyukai kehalusan. Dia memberikan sesuatu dengan
dengan kelembutan dan Allah tidak memberikan sesuatu dengan kekerasan”
(HR.Muslim).
Ketika air mata Rasulullah menetes
menangisi gugurnya para syuhada’ tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah
Radhiallaahu anhu bertanya: “Wahai Rasulullah, Anda menangis?”
Rasulullah menjawab: “Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah letakkan
di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah
hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR. Al-Bukhari).
Ketika air mata Rasulullah menetes
disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf
bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang
yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini
menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang
diridhai Allah SWT. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu
wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari).
2. Menggendong dan Mencium anak
Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu
ia berkata: “Rasulullah pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim,
kemudian mengecup dan menciumnya.” (HR. Al-Bukhari).
Ciuman sebagai ungkapan kasih sayang
merupakan sunah Rasulullah Saw. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari
‘Aisyah ra.”Telah datang beberapa orang dari dusun kepada Rasulullah
SAW., mereka berkata: „Apakah kalian menciumi anak-anak kecil kalian?”
Rasul menjawab: „Ya.” Mereka berkata lagi: “Namun kami, demi Allah
tidak pernah mencium.” Rasul menjawab: “Apa daya diriku, jika Allah
mencabut rasa kasih sayang dari hati kalian.”
Dari Abu Hurairah RA bahwa suatu hari
Al Aqra bin Habis melihat Rasulullah SAW sedang menciumi Al Hasan.
Kemudian Al Aqra memberitahukan kepada Rasulullah SAW bahwa ia memiliki
sepuluh orang anak tetapi belum pernah menciumi salah seorang diantara
mereka. Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang tidak menyayangi
maka ia tidak akan disayangi”. (HR. Turmudzi).
Hadits-hadits di atas dengan jelas
mengajarkan kepada kita bahwa ciuman memiliki peranan penting dalam
membangkitkan perasaan dan emosi anak, bahkan selain itu mampu
meredakan perasaan amarahnya, dan menambah eratnya hubungan dan cinta
dengan orang tuanya. Bagi anak, hal ini adalah suatu bukti rasa kasih
sayang kedua orang tuanya. Seorang ibu atau bapak yang mencium anaknya
membuktikan adanya perhatian terhadap anaknya. Janganlah segan-segan
mengantarkan anak kita dengan ciuman manis di kening sebelum tidurnya.
Hal ini akan menentramkannya ketika akan tidur.
3. Memberikan Makanan
Kasih sayang tersebut tidak hanya
terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi
segenap anak-anak kaum muslimin. Asma’ binti ‘Umeis Radhiallaahu
anha–istri Ja’far bin Abi Thalibmenuturkan: “Rasulullah datang
menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far. Aku melihat beliau
mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: “Wahai
Rasulullah, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far?” beliau
menjawab: “Sudah, dia telah gugur pada hari ini!” Mendengar berita itu
kamipun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: “Buatkanlah
makanan bagi keluarga Ja’far, karena telah datang berita musibah yang
memberatkan mereka.” (HR. Ibnu Sa’ad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Akhlak Rasulullah yang begitu agung
memotivasi kita untuk meneladaninya dan menapaki jejak langkah beliau.
Pada zaman sekarang ini, curahan kasih sayang terhadap anak-anak serta
menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya sangat langka kita
temukan. Padahal mereka adalah calon pemimpin keluarga esok hari,
mereka adalah cikal bakal tokoh masa depan dan cahaya fajar yang
dinanti-nanti. Kejahilan dan keangkuhan, dangkalnya pemikiran serta
sempitnya pandangan menyebabkan hilangnya kunci pembuka hati terhadap
para bocah dan anak-anak. Sementara Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam, kunci pembuka hati itu ada di tangan dan lisan beliau. Cobalah
lihat, Rasulullah senantiasa membuat anak-anak senang kepada beliau,
mereka menghormati dan memuliakan beliau. Hal itu tidaklah mengherankan,
karena beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa ketika orang-orang melihat buah
pertama (dari musim tanaman) mereka membawanya kepada Nabi. Ketika
beliau menerimanya, beliau berdo’a, “Ya Allah, berkatilah kami atas
buah-buahan kami dan berkatilah kami dalam kota kami, dan berkatilah
kami dalam setiap timbangan sha’ atau mud kami (maksudnya dalam setiap
keadaan). Ya Allah, Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu, dan nabi-Mu,
dan aku juga adalah hamba-Mu dan nabi-Mu. Ia (Ibrahim) berdoa kepada-Mu
untuk keberkahan atas Makkah, dan aku memohon pada-Mu untuk Madinah
seperti ia memohon pada-Mu untuk Makkah, dan aku juga memohon kepadamu
seperti itu.” Beliau kemudian memanggil anak kecil dan memberikannya
buah-buah itu. (Shahih Muslim,7:3170)
4. Mengucapkan salam
Setiap kali Anas bin Malik melewati
sekumpulan anak-anak, ia pasti mengucapkan salam kepada mereka. Beliau
berkata: “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam.” (Muttafaq ‘alaih).
Meskipun anak-anak biasa merengek dan
mengeluh serta banyak tingkah, namun Rasulullah tidaklah marah,
memukul, membentak dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah
lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.
5. Mendo’akan
Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha ia
berkata: “Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, lalu beliau mendoakan mereka,
pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing
pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memercikkannya
pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR. Al-Bukhari).
6. Bermain & bercanda
Dari Jabir ra. berkata:”Pernah kami
bersama Rasulullah saw. kemudian kami diundang makan bersama. Tiba-tiba
kami melihat Husain bermain di jalan bersama anak-anak kecil lain.
Bersegeralah Nabi berada di depan sahabat-sahabatnya, kemudian beliau
membentangkan tangannya, maka ia lari ke sana-kemari sehingga
Rasulullah membuatnya tertawa, kemudian membawanya. Kemudian Rasul
meletakkan salah satu tangannya di dagunya dan yang laindiletakkan di
antara kepala dan kedua telinganya, dan Rasulullah pun merangkul dan
menciumnya seraya bersabda: “Hasan dariku dan aku darinya, Allah akan
mencintai orang yang dicintai oleh Hasan dan Husain, dua cucu dari
cucunya. (HR. Bukhari dan Tirmidzi serta Hakim).
Meluangkan waktu bermain dan bercanda
dengan anak adalah satu hal yang amat penting. Dengan demikian jalinan
keakraban antara anak dan orang tua akan terjalin erat. Suatu hal yang
amat disayangkan apabila kita membiarkan anak kita bermain dengan
teman-teman sebayanya tapi ternyata kita tidak dapat meluangkan waktu
untuk bermain bersamanya. Maka jadilah si anak akrab dengan teman-teman
lingkungannya. Padahal belum tentu lingkungannya itu islami.
Bagaimana kita dapat menanamkan
nilai-nilai islami apabila kita tidak dapat akrab dengan anak-anak kita
sendiri. Tugas bermain dan bercanda dengan anak bukan saja terletak
pada pundak ibu, bahkan seorang ayah pun patut meluangkan waktunya
untuk bermain dengan anak-anak. Umar bin Khattab pernah berkata:
“Seharusnya seorang ayah di tengah-tengah keluarganya berlaku
kekanak-kanakkan, namun kalau dilihat dirinya sesungguhnya, maka ia
adalah laki-laki yang ksatria. Demikianlah Akhlaq mulia Rasulullah saw.
terhadap anak-anak yang patut kita contoh. Anak-anak adalah harapan
kita, pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak amat tergantung pada rasa
kasih sayang yang dicurahkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Dalam
hal ini yang paling berperan penting adalah kita sebagai orangtuanya,
tempat kembali bagi anak untuk merasakan dekapan hangatnya rasa kasih
sayang.
Abu Hurairah Radhiallaahu anhu
menceritakan: “Rasulullah pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan
Al-Hasan bin Ali Radhiallaahu anhu. Iapun melihat merah lidah beliau,
lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat
Silsilah Shahihah no.70).
7. Memanggil dengan panggilan yang disukai
Anas bin Malik Radhiallaahu anhu
menuturkan: “Rasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu
Salamah Radhiallaahu anha, beliau memanggilnya dengan: “Ya Zuwainab, Ya
Zuwainab, berulang kali.” (Zuwainab artinya: Zainab kecil)
8. Mengajak beribadah
Kasih sayang beliau kepada anak tiada
batas, meskipun beliau tengah mengerjakan ibadah yang sangat agung,
yaitu shalat. Beliau pernah mengerjakan shalat sambil menggendong
Umamah putri Zaenab binti Rasulullah dari suaminya yang bernama Abul
‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika
sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih).
Mahmud bin Ar-Rabi’ Radhiallaahu anhu
mengungkapkan: “Aku masih ingat saat Rasulullah menyemburkan air dari
sebuah ember pada wajahku, air itu diambil dari sumur yang ada di rumah
kami. Ketika itu aku baru berusia lima tahun.” (HR. Muslim).
Rasulullah senantiasa memberikan
pengajaran, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Abdullah bin
Abbas menuturkan: “Suatu hari aku berada di belakang Nabi beliau
bersabda: “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
“Jagalah (perintah) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah
(perintah) Allah, pasti kamu selalu mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika
kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan,
mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
saya pernah melakukan shalat, dan saya bermaksud memperlama dan
memperpanjang shalat saya tersebut. Lalu saya mendengar suara tangisan
bayi, maka saya pun memperpendek shalat saya, sebab saya tahu, ibunya
malah gembira dengan tangisan anak tersebut.” (HR.Bukhari Muslim)
”Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan
shalat diwaktu usia mereka meningkat tujuh tahun dan pukullah (kalau
enggan (tidak mau) melakukan shalat) diwaktu mereka meningkat usia
sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud).
Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithrah
sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap orang
merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau besar
dari kalangan kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim).
9. Memenuhi janji
Rasulullah SAW bersabda, “Cintailah
anak-anak dan kasihanilah mereka. Jika kalian berjanji kepada mereka
maka penuhilah janji kalian, sebab mereka tidak berfikir (melihat)
kecuali bahwa kalian akan memberi rezeki kepada mereka” (HR.Thahawi).
0 komentar:
Posting Komentar