Senin, 28 Mei 2012
Filled Under:
islam dan teknologi
Posted by:
Unknown
- 05.08
Share
Di antara hal yang di anggap modern di era ini adalah sains dan
teknologi. Sains dan teknologi mengalami perkembangan yang begitu pesat
bagi kehidupan manusia. Dalam setiap waktu
para ahli dan ilmuwan terus mengkaji dan meneliti sains dan teknologi
sebagai penemuan yang paling canggih dan modern. Keduanya sudah menjadi
simbol kemajuan dan kemodernan pada abad ini. Oleh karena itu, apabila
ada suatu bangsa atau negara yang tidak mengikuti perkembangan sains dan
teknologi, maka bangsa atau negara itu dapat dikatakan negara yang
tidak maju dan terbelakang. Kembali ke topik Islam terkait dengan
masalah sains dan teknologi. Pandangan Islam terhadap sains dan
teknologi adalah bahwa Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju
dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk me-research
dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi
Islam sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang perlu
digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam
semesta ini Allah anugerahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka
bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pandangan
Islam tentang sains dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya
dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Isra: 1-5)
Menurut seorang pakar tafsir kontemmporer asal Indonesia, Prof. Dr.
Quraisy Syihab, ‘iqra’ terambil dari kata menghimpun. Dari menghimpun
lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti,
mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.[1]
Dalam ayat yang lain, Allah SWT memuji kepada hambanya yang memikirkan
penciptaan langit dan bumi. Bahkan banyak pula ayat-ayat al-Qur’an yang
menyuruh manusia untuk meneliti dan memperhatikan alam semesta.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa
neraka. (QS. Al-Imran: 190-191) Dan apakah mereka tidak memperhatikan
bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam
tumbuh-tumbuhan yang baik? (QS. Asy-Syu’ara: 7) Katakanlah:
“Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat
tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi
orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus: 101) Ayat-ayat di atas
adalah sebuah support yang Allah berikan kepada hambanya untuk
terus menggali dan memperhatikan apa-apa yang ada di alam semesta ini.
Makanya seorang ahli sains Barat, Maurice Bucaile, setelah ia melakukan
penelitian terhadap al-Qur’an dan Bibel dari sudut pandang sains modern.
Ia mengatakan: “Saya menyelidiki keserasian teks Qur’an dengan sains
modern secara obyektif dan tanpa prasangka. Mula-mula saya mengerti,
dengan membaca terjemahan, bahwa Qur’an menyebutkan bermacam-macam
fenomena alamiah, tetapi dengan membaca terjemahan itu saya hanya
memperoleh pengetahuan yang sama (ringkas). Dengan membaca teks arab
secara teliti sekali saya dapat mengadakan inventarisasi yang
membuktikan bahwa Qur’an tidak mengandung sesuatu pernyataan yang dapat
dikritik dari segi pandangan ilmiah di zaman modern.”[2]
Jika sains dan teknologi ini ditelusuri kembali ke masa-masa
pertumbuhannya, hal itu tidak lepas dari sumbangsih para ilmuwan muslim.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa asal-usul sains modern atau
revolusi ilmiah berasal dari peradaban Islam. Memang sebuah fakta, umat
Islam adalah pionir sains modern. Jikalau mereka tidak berperang di
antara sesama mereka, dan jika tentara kristen tidak mengusirnya dari
Spanyol, dan jika orang-orang Mongol tidak menyerang dan merusak
bagian-bagian dari negeri-negeri Islam pada abad ke-13, mereka akan
mampu menciptakan seorang Descartes, seorang Gassendi, seorang Hume,
seorang Cupernicus, dan seorang Tycho Brahe, karena kita telah menemukan
bibit-bibit filsafat mekanika, emperisisme, elemen-elemen utama dalam
heliosentrisme dan instrumen-instrumen Tycho Brahe dalam karya-karya
al-Ghazali, Ibn al-Shatir, para astronom pada observatorium margha dan
karya-karya Takiyudin.[3]
Peradaban Islam pernah memiliki khazanah ilmu yang sangat luas dan
menghasilkan para ilmuwan yang begitu luar biasa. Ilmuwan-ilmuwan ini
ternyata jika kita baca, mempunyai keahlian dalam berbagai bidang. Sebut
saja Ibnu Sina. Dalam umurnya yang sangat muda, dia telah berhasil
menguasai berbagai ilmu kedokteran. Mognum opusnyaal-Qanun fi
al-Thibmenjadi sumber rujukan primer di berbagai universitas Barat.
Selain Ibnu Sina, al-Ghazali juga bisa dibilang ilmuwan yang
refresentatif untuk kita sebut di sini. Dia teolog, filosof, dan sufi.
Selain itu, dia juga terkenal sebagai orang yang menganjurkan ijtihad
kepada orang yang mampu melakukan itu. Dia juga ahli fiqih.
Al-Mushtasfaadalah bukti keahliannya dalam bidang ushul fiqih. Tidak
hanya itu, al-Ghazali juga ternyata mempunyai paradigma yang begitu
modern. Dia pernah mempunyai proyek untuk menggabungkan, tidak
mendikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Baginya, kedua jenis ilmu tersebut
sama-sama wajib dipelajari oleh umat Islam. Selain para ilmuwan di
atas, Ibnu Rusyd layak kita sebut di sini. Dia filosof ulung, teolog dan
menguasai kedokteran. Bahkan dia juga bisa disebut sebagai faqih.
Kapabalitasnya dalam bidang fiqih dibuktikan dengan karya tulisnya
Bidayah al-Mujtahid. Filosof ini juga menjadi inspirasi gerakan-gerakan
di Barat. Tidak sedikit ideologinya yang diadopsi oleh orang Barat
sehingga bisa maju seperti sekarang. Ilmuwan lainnya seperti Fakhruddin
al-Razi, selain seorang teolog, filosof, ahli tafsir, dia juga seorang
yang menguasai kedokteran. Al-Khawarizmi, Matematikawan dan seorang
ulama. Dan masih banyak lagi para ulama sekaligus ilmuwan yang
dihasilkan dari Peradaban Islam. Semua itu menunjukkan, bahwa suatu
peradaban bisa maju dan unggul, meskipun tetap dilandasi oleh agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan (Allah SWT). Adapun kondisi umat Islam
sekarang yang mengalami kemunduran dalam bidang sains dan teknologi
adalah disebabkan oleh berbagai hal. Sains Islam mulai terlihat
kemunduran yang signifikan adalah selepas tahun 1800 disebabkan faktor
eksternal seperti pengaruh penjajahan yang dengan sengaja menghancurkan
sistem ekonomi lokal yang menyokong kegiatan sains dan industri lokal.
Contohnya seperti apa yang terjadi di Bengali, India, saat sistem
kerajinan industri dan kerajinan lokal dihancurkan demi mensukseskan
‘revolusi industri” di Inggris. Sains dan teknologi adalah simbol
kemodernan. Akan tetapi, tidak hanya karena modern, kemudian kita
mengabaikan agama sebagaimana yang terjadi di Barat dengan ideologi
sekularisme. Karena sains dan teknologi tidak akan pernah bertentangan
dengan ajaran Islam yang relevan di setiap zaman.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar